Selasa, 28 Juni 2022
Sabtu, 26 Okt 2019, 15:27:30 WIB, 68592 View Administrator, Kategori : INSPIRATIF

Tentang Hambatan Mental

Seringkali, penghambat terbesar dalam pencapaian tujuan kita bukan berasal dari luar melainkan dari dalam kita sendiri. Banyak dari kita yang belum mengijinkan dirinya sendiri untuk sukses. Akibatnya kita malas, menunda dan berhenti bergerak menuju tujuan kita. kita mensabotase diri kita sendiri untuk sukses.

jika visi ibarat tujuan, motivasi ibarat gas, maka hambatan-hambatan mental ini ibarat rem. semakin banyak hambatan internal, semakin terhenti langkah kita. Namun tidak berarti kita harus menghilangkan bagaimanapun juga rem ada manfaatnya. yang perlu kita lakukan adalah mengelolanya.

ada dua macam hambatan internal yang paling sering muncul: mental blok dan limiting belief. banyak orang mencampurkkan kedua istilah ini. padahal keduanya berbeda, meskipun saling terkait.

apa yang dimaksud dengan mental block? mental block adalah ketidamampuan untuk melakukan sesuatu yang biasanya mampu anda lakukan; seringkali terjadi kerena tekanan emosional. bentuknya bisa berupa ketakutan, kekhawatiran atau keragu-raguan.

pernah tiba-tiba lupa nama temen? pernah tiba - tiba blank saat diminta bicara di depan umum? pernah merasa buntu ketika hendak menulis sesuatu? itu adalah contoh mental block.

Tentu saja, munculnya mental block ini membuat kita tidak mampu mengeksekusi skill kita secara efektif pada saat dibutuhkan, akhirnya kita menunda pekerjaan kita tersebut. katakanlah anda berniat menulis sebuah artikel pada pukul 05.00 - 06.00 setiap hari. pada saat yang sudah di tentukan anda duduk di depan komputer anda, dan tiba - tiba.. blank! anda tidak tahu apa yang harus anda tuliskan. seperti inilah gambaran mental block.

sementara limiting belief adalah keyakinan-keyakinan yang menghambat kita untuk mewujudkan tujuan kita. sangat mungkin mental blok muncul karena kita memiliki limiting belief. untuk kepentingan praktis di buku ini, kita anggap mental block dan limiting belief adalah hal yang sama supaya kita tidak binggung dan lebih mudah mengaplikasikan solusinya di dunia nyata. sebelum kita lanjutkan. Mari kita simak kisah berikut ini terlebih dulu

pernah melihat gajah di kebun binatang? mereka dirantai dan rantainya disambung ke sebuah pasak. tujuan sederhana saja, supaya gajah itu tidak pergi kemana - mana. menariknya jika kita amati, pasak yang digunakan untuk menahan gajah itu biasanya berukuran kecil - tidak seimbang dengan besarnya gajah. bahkan jika gajah itu memberontak, saya yakin pasak itu akan jebol dengan mudah. akan tetapi, kenapa gajah itu seakan-akan pasrah dengan kondisinya?

kisah sebenarnya dimulai ketika gajah itu masih kecil.. dulu waktu sang gajah masih kecil ia di rantai dengan rantai dan pasak yang seimbang dengan ukuranya. sang gajah pun terasa tidak nyaman ia memberontak berusaha melepaskan rantai dan pasak yang mebelenggunya. Tapi apa dikata, rantai dan pasak itu terlalu kuat baginya. Sekuat apapun gajah itu berusaha memberontak, rantai dan pasak itu tak bergeming sedikitpun. Usahanya seakan - akan sia-sia. sampai akhirnya dia menyakini dalam hatinya: "Percuma saja aku mencoba, sekuat apapun aku mencoba aku tak akan mampu bebas dari rantai ini sampai kapanpun aku tak akan mampu bebas dari rantai ini,"  sang gajah kecil lalu menyerah dengan kondisinya.

hari demi hari pun berlalu, gajah kecil ini kini telah menjadi dewasa. Ukuran badanya pun sudah jauh lebih besar dibandingkan dulu. Badanya boleh membesar, umurnya boleh makin dewasa, namun keyakinanya terhadap rantai itu masih sekecil dulu. meskipun sang pawang gajah tak pernah menganti rantai dan pasak kecil yang digunakanya dulu, sang gajah masih meyakini bahwa sampai kapanpun dia tak akan mampu bebas dari rantai yang membelenggunya. padahal dengan potensi kekuatannya saat ini, ia sebenarnya sangat mampu membebaskan potensinya sendiri.

kisah di atas adalah tentang keyakinan penghambat ( limiting belief )




Tuliskan Komentar